Antara Bumbu Desa, Resep Dapurku dan Sambara

saling berebut pasar..
Berawal ketika diberikan tugas mata kuliah manajemen pemasaran, saya dan ketiga teman saya diberi tugas untuk mencari tahu strategi marketing 3 restoran sunda di Bandung, mau tidak mau kita harus bertanya langsung ke bagian marketing, atau manager restorannya. Tanpa berbekal surat dari jurusan dan kampus, kitapun berangkat, tujuan pertama adalah rumah makan sambara cabang trunojoyo.
Sesampai di depan restoran sambara, kita bingung harus memulai dari mana?mau masuk langsung ke resto,malunya setengah mati,akhirnya kita bertanya ke satpam, dengan wajah yang kurang bersahabat, satpam menanyakan kepada kita apakah telah buat janji untuk bertemu dengan marketingnya?,jika belum dia menyarankan untuk menelepon beliau terlebih dahulu. Tapi dilihat dari mimik muka si satpam, terlihat kedatangan kami sangat tidak diharapkan ,kia juga maklum sih, soalnya restoran lagi penuh penuhnya, kita juga ga enak lah ngeganggu mereka yang sedang sibuk, alhasil ,tujuan pertama gagal!!!.

manajer bumbu desa
Tujuan kedua ke restoran bumbu desa cabang pasir kaliki, setelah mendapat perlakukan yang kurang mengenakkan sebelumnya, kita lebih legowolah kalo diperlakukan sama. Seperti biasa saya bertanya kepada satpam yang berjaga di depan, dengan mimic muka yang datar, kita dipersilakan untuk langsung masuk ke dalam restorannya. Saya dan teman-teman saya langsung menuju ke bagian lobi, bak tamu semua pegawai kompak mengucapkan “selamat datang” dalam basa sunda, kitapun agak kaget,malu dan surprise karena diperlakukan bak pelanggan setia, jauh dari perkiraan kami sebelumnya. Saya langsung bertanya kepada salah satu pegawainya, dengan senyum yang mereka berikan percuma, kami disuruh untuk menunggu terlebih dahulu. Tak lama menunggu, dengan senyum merekah, datanglah sang manajer tadi, kami dipersilakan untuk duduk sambil memberikan tangannya untuk bersalaman. Kami langsung utarakan maksud dan tujuan kami, beliaupun merespon dengan baik, satu persatu pertanyaan kami lontarkan, beliau menjawab sambil dibarengi dengan senyum, membuat kita merasa sangat dihargai. Meskipun beliau sedang ada tamu, beliau terlihat tidak terganggu dengan kedatangan kami, terlihat dari bahasa tubuh dan sorot matanya. Komunikasipun terjadi 2 arah, sesekali beliaupun bertanya kepada kami, membuat percakapan sangat hangat dan jauh dari kesan kaku. Kami merasa sangat dihargai bahkan sampai kami meninggalkan restoran ini, bagaimanapun restoran ini memberikan kesan yang sangat baik kepada kita semua. Seperti yang dikemukakan beliau pada saat wawancara, bahwa restoran bumbu desa sangat mengedepankan service, dan itu benar-benar kami rasakan.
Tujuan selanjutnya yaitu restoran resep dapurku yang berada tak jauh dari hotel panghegar. Masih berbunga-bunga karena..
diperlakukan sangat baik oleh bumbu desa, kami berharap kami deperlakukan sama baiknya di restoran ini, kami langsung ke resepsionis,kami utarakan maksud dan tujuan kami datang ke sini, sang resepsionis malah menyuruh kami untuk lapor ke satpam, oke kamipun lapor ke bagian satpam dan kami diterima dengan baik oleh si satpam, walaupun kesan yang didapat, sangat jauh berbeda dari yang kita dapatkan di bumbu desa, kamipun disuruh untuk menuggu hingga manager operationalnya datang. Orang yang ditunggu tunggu akhirnya datang, dengan wajah yang sedikit kurang bersahabat, kami ditanya perihal urusan kedatangan kami, setelah beliau tahu maksud dan tujuan kami ke restorannya hanya untuk wawancara saja, kami menangkap aroma kekecewaan darinya, tapi kami sangat maklum, sudah untung kami diterima dengan baik. Pada saat wawancara, kami sadar beliau sangat tidak nyaman dengan kedatangan kami, karyawan-karyawannya pun jauh dari kesan bersahabat, haseum kalau dalam bahasa sundanyamah heu…. Percakapan satu arahpun terjadi, kami bertanya dan beliau menjawab seadanya, senyumpun jarang sekali dilempar olehnya, situasipun sangat dingin, kami ingin segera mengakhiri wawancara ini, karena menangkap ketidaknyamanan beliau.Kamipun pergi dari restoran itu, dengan hati yang sedikit kecewa, tapi kami sangat bersyukur mereka masih mau menerima kami, dan kita juga harusnya tahu diri, sudah sudah untung kita diterima di restorannya.

manajer resep dapurku
Tujuan selanjutnya adalah rumah makan Ma uneh yang terletak di jalan padjajaran, letak restoran ma uneh yang masuk ke dalam gang-gang kecil, sangat tidak mencerminkan nama besar restoran ini, kamipun masuk dan sempat kaget ternyata karakteristik tempatnya tak beda jauh dengan kantin di dekat kampus kami. Kamipun masuk ke dalam restorannya dan tanpa basa basi salah satu pegawainya langsung menyapa, berapa piring mas? Walah, mereka pikir kita pelanggan, agak malu juga sih, padahal kita cma mau ngerepotin mereka aja, sayapun seperti biasa mengutarakan maksud dan tujuan kami datang, dengan mimik yang jutek, ternyata orang yang kami harapkan sedang keluar, kamipun disuruh untuk membuat janji terlebih dahulu, jangan asal tembak saja seperti ini katanya…. Walah kitapun keluar dan pergi dengan kepala tertunduk lesu tanpa mendapatkan apa-apa, hanya perlakuan bak pengamen saja.

manajer sambara
Tujuan selanjutnya dan terakhir adalah sambara cabang jalan kebon.. apa ya..lupa, pokoknya dekat stasiun kereta api. Berbekal 3 pengalaman sebelumnya, kita jadi lebih percaya diri dong, kami jadi tidak perduli apakah kami akan diperlakukan apa nantinya, yang penting kami mendapat data dan selesai sudah, lagian hari semakin sore, secara tadi kita kuliah ga berhenti henti dari jam 7 hingga jam 12, rasanya capek sekali badan ini. Restoran ini terkesan lebih ekslusif dari beberapa restoran yang kita datangi tadi, kamipun jadi sedikit segan untuk masuk, tapi akhirnya kami memberanikan diri, dan diluar dugaan ternyata kami disambut dengan senyum oleh salah satu pengawai yang membukakan pintu untuk kami, mungkin pegawai tadi mengira kami custumernya, tapi setelah saya ngomong maksud kedatangan kami, senyum dari pegawai tak berubah sedikitpun, kami dipersilakan masuk dan disuguhkan segelas teh panas. Manger akhirnya datang, berbeda dengan manajer-manejer restoran sebelumnya, manajer yang sekarang masih berumur cukup muda, ya mudah mudahan manajer ini lebih menyenangkan daripada manajer di resep dapurku tadi. Perkiraan tak meleset, ternyata beliau cukup kooperatif dan bersahabat, beliau menjawab pertanyaaan-perntanyaan yang kami ajukan sambil acapkali tersenyum, hingga wawancarapun akhirnya usai tak terasa.
Dari beberapa restoran yang kami datangi, ternyata berbagai kejadian membuat saya tersadar dan belajar, bagaimana kita harusnya lebih menghargai siapun yang bertamu kepada kita…, ada pepatah yang menarik “perlakukanlah orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan” adalah pepatah yang harus selalu tercermin dalam diri kita, semoga.
Share this:
Like this:
~ oleh bilal muslim pada Februari 18, 2009.
Ditulis dalam Bandung, cool place, Free Writing, journey, surat pembaca, umum, unek-unek, vacation
Tag: Bandung, bumbu desa, kuliner bandung, masakan sunda, resep dapurku, restoran sunda, sambara


mulus atuh observasi’y..,
Pasti bagian marketing’y pada nanya surat pengantarkn.?
Kita Jg gitu kemarin kejadian’Y
Ya..mo gmn lg?…malu d belakng…ha..ha..
Kenapa tidak konsultasi dulu dengan Mang Unya. Dari dia, Bilal dapat referensi sia[pa-siapa temen Mang Unya yang bisa dihubungi. Tentu terlebih dulu dengan jasa Mang Unya yang menelepon temennya itu. Nah, ini juga salah satu strugle dalam life Bil. Tapi sabar dan selalu ingat Allah SWT. Ok, Papmu senantiasa berdoa. jangan tulis yang bikin Papmu sedih atuh…….
sambara tuh restoran sunda yang unik yah…
Wah,sya juga calon mahasiswa Widyatama jurusan Manajemen Bisinis nih. Ini bisa jadi referensi yang bagus untuk sya. Untuk yang nge buat artikel ini thx banget yah…
mau minta izin copas nih ke blog sya… boleh ga?
Orang di resep dapurku selalu kasar !!!